Tentang Sanggar


  • Awal Sejarah Sanggar
Nama Sanggar sudah masuk dalam peta sejarah Nusantara sejak abad 16, dimana Sanggar mempunyai hubungan Diplomasi dengan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah (1570-1583). dibawah tongkat kekuasaan Sultan Baabullah ada 72 pulau yang dikuasai salah satunya adalah Sanggar.(Wacana, 11 Februari 2013)

  • Masuknya Islam 
Kontak Sanggar dengan Islam juga semenjak Ternate berkuasa, memasuki awal abad 17 tepatnya tahun 1608 masehi, kerajaan Gowa dibawah kepemimpinn Sultan Alaudin (1593-1639) mengirim Karaeng Maroangin untuk ekspansi kerajaan di Pulau Sumbawa. Sanggar dengan senang hati menerima kerajaan Gowa serta agama baru yaitu Islam. oleh sebab itu Kerajaan Sanggar menjadi anak emas bagi Gowa.(Helius Syamsuddin, 2013)

  • Pemerintahan Kerajaan Sanggar
Kerajaan Sanggar menggunakan sistem pemerintahan Monarki, kerajaan dipimpin oleh seorang Raja dan wakil raja adalah seorang dengan gelar Bumi Tarupong. pejabat lainnya juga bergelar Djeneli dan Gelarang pengaruh sistem kerajaan Gowa. Tercatat dalam kontrak Sanggar, bahwa raja Sanggar pertama tertulis adalah Hasanuddin (1700-1704). Jumlah raja yang pernah memimpin kerajaan Sanggar ada 15 orang.(Peter Truhart,2004)

  • Detik-detik bergabungnya Sanggar dengan Bima.
Berawal dari pembentukan Neo Landschap keresidenan timur tahun 1920,dan daerah Manggarai mulai bergejolak para Dalu yang dibawah kekuasaan kesultanan Bima mulai memberontak di pimpin oleh Dalu Todo. Tahun 1920 Bima dengan resmi melepaskan Manggarai kepada Dalu Todo dan tahun 1929 Manggarai dan sekitarnya menjadi Neo Landschap, 14 November 1930 Alexander van Baroek diangkat menjadi Raja di ruteng untuk menjadi raja Neo Landschap Manggarai.

Sebagai gantinya Residen timur menawarkan kerajaan Sanggar untuk dileburkan ke dalam Bima sebagai daerah neo landschap karena dinilai tidak memberikan keuntungan dan sudah tidak mampu lagi mengembangkan perdagangan sesuai dengan isi kontrak tahun 1901.
 
Raja Abdullah (1900-1926) karena dinilai sudah tidak mampu lagi mengembangkan perdagangan kerajaan, oleh residen timur Anthony Hendrik Spaan menyarankan kepada Gubernemen Hindia Belanda di Makassar untuk menggabungkan Sanggar ke Bima. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda dilanda oleh krisis keuangan akibat perang Aceh. Jadi, ketika kerajaan yang dinilai tidak menguntungkan akan dileburkan ke kerajaan besar yang dinilai bisa mengelola wilayahnya.

Tahun 1926 Raja Abdullah menandatangani penyerahan Kerajaan Sanggar di Bima didampingi oleh Bumi Tarupong, dan kesultanan Bima di wakili oleh Sultan Muhammad Salahuddin didampingi oleh Bumi Luma Rasanae Muhammad Yakub. Serta pejabat residen timur ikut menyaksikan penyerahan Kerajaan Sanggar ke Bima.


Penulis : Fahrurizki

1 komentar:

 
sanggar © 2012 | Designed by Bubble Shooter, Wisata Tentang Sanggar , Silsillah and Budaya dan Sejarah